Mencatat Sejarah Melalui Batik

Pertanyaan apa selanjutnya setelah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB, UNESCO, mengakui batik Indonesia sebagai warisan dunia tak benda pada Oktober 2009 dijawab oleh masyarakat.

Berbagai kegiatan swadaya di sana-sini terus berlangsung. Mercedes Benz Indonesia salah satunya, dengan meminta perancang busana Carmanita melukis satu mobil Mercedes Benz C250 CGI dengan motif batik. Gubernur DKI Fauzi Bowo meluncurkan mobil batik tersebut di Balaikota Jakarta pada Selasa (9/2). Setelah itu, mobil tersebut dipamerkan ke berbagai tempat. Pada tahun 2004, Mercedes Benz meminta perancang busana Giorgio Armani mendesain interior 100 buah Mercedes CLK Cabriolet Giorgio Armani.

Mobil bergaya sport itu berwarna dasar merah marun di bagian depan dan warna perak di bagian belakang. Carmanita, cucu seniman batik dan pencipta lagu anak Bintang Sudibjo atau Ibu Sud, menerakan corak batiknya yang khas memakai titik-titik dengan inti motif bunga.

”Batik berasal dari kata titik, karena itu saya gunakan titik-titik untuk membentuk corak. Juga ada motif retak untuk menunjukkan ciri batik tulis,” kata Carmanita.

Untuk mewujudkan corak batik di atas badan mobil, Carmanita bekerja sama dengan Tommy Dwi Djatmiko, pemilik Mastomcustom Graphic Airbrush System, Jakarta, memakai teknik airbrush dengan pengerjaan hampir tiga minggu.

”Mercedes Benz menyerahkan semuanya kepada saya. Semula saya akan memakai warna merah jambu, tetapi terlalu feminin. Karena itu, muncul warna merah marun dan perak yang lebih netral,” tutur Carmanita.

Dokumentasi

UNESCO memberikan penghargaan warisan dunia tak benda pada batik dari Indonesia karena batik terus dihidupi dan menghidupi masyarakatnya. Salah satu upaya swadaya masyarakat adalah mendokumentasikan batik dan cara batik dikenakan. Ada yang mengoleksi, ada yang mengoleksi sekaligus menuliskan sejarahnya.

Kolektor batik dan pemilik industri batik print Kencana Wungu, Hartono, misalnya, memamerkan koleksi batik pesisirannya dua pekan lalu menyambut Imlek. Dari berbagai kain tua itu, terlihat masyarakat peranakan China sangat menghargai batik tulis.

Batik asal Lasem dari tahun 1890 hingga 1900 koleksi Hartono, misalnya, memakai corak orang naik kilin, teratai, ayam, dan menjangan. Hewan mitologi kilin melambangkan sesuatu yang tinggi, bisa berupa jabatan atau tingkat spiritual. ”Teratai lambang kesucian, ayam artinya rajin, dan menjangan rezekinya lancar. Jadi, ada harapan atas sesuatu dalam sehelai kain dan orang yang memakainya,” papar Hartono.

Sementara di Rumah Rakuji, Cipete, Jakarta Selatan, Kamis lalu, Asmoro Damais dan Judi K Achjadi dari Pusat Dokumentasi Wastra dan Busana Indonesia menyuguhkan pameran evolusi kain batik dan kebaya, mulai dari pemakaian oleh perempuan Belanda di Indonesia hingga lahirnya kebaya yang dikenakan peranakan China, lengkap dengan batiknya dari awal abad ke-20.

Kebaya perempuan Eropa Belanda berbentuk persegi, longgar, berwarna putih, berhias renda di bagian tepi, serta dihiasi sulam tangan di bagian dalam.

Model itu ditiru perempuan peranakan China, dengan modifikasi. Bentuk mengikuti tubuh dan melebar di pinggul, memakai renda di bagian tepi dengan tambahan hiasan yang dibordir mesin. Setelah tahun 1920, perempuan Eropa dianjurkan tidak lagi memakai kebaya di luar rumah karena dianggap bukan baju, dress.

Warna mula-mula putih, tetapi kemudian menjadi berwarna-warni karena putih adalah warna berkabung. Pilihan kain pun lebih transparan, voile atau organdi atau dipadu tulle. ”Bahan transparan itu untuk memperlihatkan baju dalam yang sama bagusnya dan juga perhiasan, seperti ikat pinggang dari perak atau emas,” kata Elsi Sunarya, pengurus perkumpulan Wastraprema, dalam pameran dua pekan lalu.

Corak batik selalu mengandung makna tertentu, tergantung dari latar belakang sosial pemakai. Untuk pengikut Konghucu yang mementingkan pendidikan, demikian Judi, corak bunga teratai yang tumbuh meninggi di atas lumpur, misalnya, melambangkan kedudukan tinggi yang berhubungan dengan pendidikan, seperti menjadi pegawai negeri. Tetapi, bunga teratai yang berbiji banyak juga melambangkan kemakmuran.

Lebih dari sekadar memamerkan pakaian, Asmoro mengatakan, pameran ini untuk mendokumentasikan informasi yang terserak di masyarakat. ”Harapan kami, siapa pun yang memiliki informasi tentang kain Indonesia dari nenek atau kerabatnya bersedia membagi pengetahuan itu supaya kita punya sejarah tercatat,” kata Asmoro. Terbukti, kain dan pakaian adalah juga dokumen sosial, ekonomi, dan politik masyarakat.

Source: kompas

Popularity: 21% [?]

Filed Under: Trend

Tags:

See also:

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply